sampai kapan

SAMPAI KAPAN

Sampai kapan aku rindu kamu, tanyamu.
Aku jawab: sampai hari ini.
Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Konon kata “kapan” adalah kata tanya terakhir yang idenya bisa dimengerti oleh kanak-kanak. Mereka lebih cepat mengerti tentang “bagaimana” atau “mengapa” daripada memahami kata “kapan”. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, biarlah aku menjadi kanak-kanak yang mengabaikan dimensi waktu, dan pertanyaanmu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Orang tidak bisa melihat satu sungai yang sama dua kali. Sebab air yang mengalir saat dia lihat untuk kali yang ke dua bukanlah air yang kemarin dia lihat pertama kali. Dan esok pun kalau dia datang, dia akan melihat sungai yang lain dari hari ini. Manusia tidak akan bisa mengulang kemarin dan tidak tahu akan hari esok. Karenanya, bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, yang aku tahu jawabannya adalah: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Waktu, dimensi yang tidak sepenuhnya dimengerti manusia. Menjawab “kapan” adalah jawaban yang manusia sendiri pun tidak pernah mengerti. Orang Hindustan menggambarkannya sebagai Mahadewa Kala yang bermuka raksasa, dan di saat yang sama adalah Mahadewa Guru yang bertangan delapan, tampan dan arif-bijaksana. Aku tidak mengerti, kemarin aku menghadapi raksasa, atau esok aku akan melihat dewa nan tampan (wah… aku belum pernah melihat raksasa atau dewa).
Yang aku tahu, hari ini aku merindu. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, dan tanyamu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Sampai kapan pun bibirmu sanggup menanyakan itu, aku akan menjawab dengan jawaban yang sama. Suatu hari jika bibirmu tak mampu lagi bertanya, dan bibirku tak mampu menjawab, hari itulah kita telah lebur dalam Sang Waktu, dalam pangkuan Sang Kala, terikat rindu tak berbatas. Dimana kata “kapan” tak lagi bermakna. Tak ada esok, tak ada lusa, tak ada dulu, tak ada kemarin. Yang ada hanya sekarang,  hari ini.
Pertanyaanmu akan berakhir. “Kapan” tak lagi memiliki kuasa.
Jawabanku akan tetap utuh bagi kerinduanku: HARI INI….
My dear, my lust, my joy… Je t’aime

2 Responses to “sampai kapan”

  1. Balsar Wall-mounted Clock Says:

    Balsar Wall-mounted Clock…

    An interesting post by a bloger made me ……

  2. Baggallini Baby Hampton Shoes - Espresso - Women Says:

    Baggallini Baby Hampton Shoes - Espresso - Women…

    An interesting post by a bloger made me ……

Leave a Reply