sex..terlarang
coelho:
Mengapa semua agama, di seluruh dunia, bahkan kepercayaan-kepercayaan dan budaya-budaya paling primitive, menganggap seks terlarang?
Karena makanan!
Ribuan tahun yang lalu, suku-suku hidup berpindah-pindah; lelaki bisa menggauli wanita sebanyak dia suka, dan, tentu saja, menghasilkan anak dengan mereka. Tapi semakin besar anggota suku itu, semakin besar kemungkinan mereka akan punah. Suku-suku itu berkelahi diantara mereka sendiri demi makanan, mula-mula membunuh anak-anak, lalu wanita-wanita, karena mereka yang paling lemah. Hanya yang kuat-kuat yang selamat, tapi semuanya laki-laki. Dan tanpa wanita, manusia tidak bisa beranak pinak.
Lalu seseorang, setelah melihat apa yang terjadi di suku tetangga, hendak mencegah hal yang sama terjadi di sukunya. Dia merekayasa cerita tentang dewa yang melarang manusia bercinta tanpa pandang bulu dengan para wanita sesuku. Mereka hanya boleh bercinta dengan satu, atau paling banyak dua wanita. Beberapa lelaki impotent, beberapa wanita steril, beberapa anggota suku –karena sebab-sebab alamiah, tidak bisa punya anak, tapi tak seorangpun boleh berganti pasangan.
Mereka semua percaya cerita itu, karena orang yang menceritakannya bicara atas nama dewa. Dia pasti berbeda dengan yang lain: mungkin dia punya kelainan bentuk tubuh, atau penyakit yang menyebabkan kejang-kejang, atau bakat tertentu, pokoknya sesuatu yang membuatnya beda dari anggota-anggota suku yang lain, sebab seperti itulah biasanya para pemimpin pertama kali muncul. Dalam beberapa tahun, suku itu semakin kuat, dengan jumlah lelaki yang pas untuk memberi makan semua orang, dengan jumlah wanita yang pas untuk reproduksi, dan jumlah anak yang pas untuk menggantikan para pemburu dan pejantan.
Apakah yang paling menyenangkan bagi wanita dalam perkawinan? Seks?
Salah!
Membuat makanan. Melihat suaminya makan. Itulah saat-saat kepuasan seorang wanita, karena dia menghabiskan seluruh harinya memikirkan makan malam. Dan sebabnya pasti berakar pada kisah zaman purba itu –kelaparan, ancaman kepunahan, dn jalan menuju kelangsungan eksistensi umat manusia.