kapan?

October 18th, 2008 by gawilgawil

SAMPAI KAPAN

Sampai kapan aku rindu kamu, tanyamu.
Aku jawab: sampai hari ini.
Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Konon kata “kapan” adalah kata tanya terakhir yang idenya bisa dimengerti oleh kanak-kanak. Mereka lebih cepat mengerti tentang “bagaimana” atau “mengapa” daripada memahami kata “kapan”. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, biarlah aku menjadi kanak-kanak yang mengabaikan dimensi waktu, dan pertanyaanmu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Orang tidak bisa melihat satu sungai yang sama dua kali. Sebab air yang mengalir saat dia lihat untuk kali yang ke dua bukanlah air yang kemarin dia lihat pertama kali. Dan esok pun kalau dia datang, dia akan melihat sungai yang lain dari hari ini. Manusia tidak akan bisa mengulang kemarin dan tidak tahu akan hari esok. Karenanya, bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, yang aku tahu jawabannya adalah: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Waktu, dimensi yang tidak sepenuhnya dimengerti manusia. Menjawab “kapan” adalah jawaban yang manusia sendiri pun tidak pernah mengerti. Orang Hindustan menggambarkannya sebagai Mahadewa Kala yang bermuka raksasa, dan di saat yang sama adalah Mahadewa Guru yang bertangan delapan, tampan dan arif-bijaksana. Aku tidak mengerti, kemarin aku menghadapi raksasa, atau esok aku akan melihat dewa nan tampan (wah… aku belum pernah melihat raksasa atau dewa).
Yang aku tahu, hari ini aku merindu. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, dan tanyamu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Sampai kapan pun bibirmu sanggup menanyakan itu, aku akan menjawab dengan jawaban yang sama. Suatu hari jika bibirmu tak mampu lagi bertanya, dan bibirku tak mampu menjawab, hari itulah kita telah lebur dalam Sang Waktu, dalam pangkuan Sang Kala, terikat rindu tak berbatas. Dimana kata “kapan” tak lagi bermakna. Tak ada esok, tak ada lusa, tak ada dulu, tak ada kemarin. Yang ada hanya sekarang,  hari ini.
Pertanyaanmu akan berakhir. “Kapan” tak lagi memiliki kuasa.
Jawabanku akan tetap utuh bagi kerinduanku: HARI INI….
My dear, my lust, my joy… Je t’aime

sampai kapan

October 18th, 2008 by gawilgawil

SAMPAI KAPAN

Sampai kapan aku rindu kamu, tanyamu.
Aku jawab: sampai hari ini.
Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Konon kata “kapan” adalah kata tanya terakhir yang idenya bisa dimengerti oleh kanak-kanak. Mereka lebih cepat mengerti tentang “bagaimana” atau “mengapa” daripada memahami kata “kapan”. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, biarlah aku menjadi kanak-kanak yang mengabaikan dimensi waktu, dan pertanyaanmu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Orang tidak bisa melihat satu sungai yang sama dua kali. Sebab air yang mengalir saat dia lihat untuk kali yang ke dua bukanlah air yang kemarin dia lihat pertama kali. Dan esok pun kalau dia datang, dia akan melihat sungai yang lain dari hari ini. Manusia tidak akan bisa mengulang kemarin dan tidak tahu akan hari esok. Karenanya, bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, yang aku tahu jawabannya adalah: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Waktu, dimensi yang tidak sepenuhnya dimengerti manusia. Menjawab “kapan” adalah jawaban yang manusia sendiri pun tidak pernah mengerti. Orang Hindustan menggambarkannya sebagai Mahadewa Kala yang bermuka raksasa, dan di saat yang sama adalah Mahadewa Guru yang bertangan delapan, tampan dan arif-bijaksana. Aku tidak mengerti, kemarin aku menghadapi raksasa, atau esok aku akan melihat dewa nan tampan (wah… aku belum pernah melihat raksasa atau dewa).
Yang aku tahu, hari ini aku merindu. Dan bila kamu tanyakan sampai kapan aku rindu kamu, dan tanyamu itu akan aku jawab: Sampai hari ini. Karena esok dan lusa pun akan kujawab dengan kata yang sama: hari ini.
Sampai kapan pun bibirmu sanggup menanyakan itu, aku akan menjawab dengan jawaban yang sama. Suatu hari jika bibirmu tak mampu lagi bertanya, dan bibirku tak mampu menjawab, hari itulah kita telah lebur dalam Sang Waktu, dalam pangkuan Sang Kala, terikat rindu tak berbatas. Dimana kata “kapan” tak lagi bermakna. Tak ada esok, tak ada lusa, tak ada dulu, tak ada kemarin. Yang ada hanya sekarang,  hari ini.
Pertanyaanmu akan berakhir. “Kapan” tak lagi memiliki kuasa.
Jawabanku akan tetap utuh bagi kerinduanku: HARI INI….
My dear, my lust, my joy… Je t’aime

February 28th, 2008 by gawilgawil

 
Meng_haoran

I’d often like to lie atop a hill,
Instead I suffer hardship, lacking money.
This northern land was never what I wished,
Instead I think of my teacher in the eastern forest.
Golden flecks in the ash of cassia wood,
My great ideals decline more year by year.
As the sun goes down, a chilling wind appears,
To hear cicadas makes me sorrow more.

February 26th, 2008 by gawilgawil

matahari yang tadi gemilang, surut ke barat
sekejap bukit-bukit dipenuhi bayangannya sendiri
bulan membawa kebekuan diantara pepohonan
karena aku menantimu, kegelapan telah menjadi terangku
jika gelap mampu menerangi
akankah kesedihan dapat membahagiakan?

RA vs ALAM

January 15th, 2008 by gawilgawil

"MADILOG":

siapa yang terkuasa Dewa RAH ataukah ALAM? Tiga jawab yang mungkin, dan tiga jari pula yang perlu dipakai.

  1. Dewa Rah lebih kuasa dari Alam dan Undangnya.
  2. Dewa Rah sama kuasa dengan Alam dan Undang Alam.
  3. Dewa Rah kurang kuasa dari Alam dan Undang Alam. 

Balik kita kejari ke 1, yakni pada telunjuk yang mengatakan bahwa Dewa Rah lebih kuasa dari Alam dan Undangnya!

Menurut Ilmu Bintang zaman sekarang, maka jutaan Bintang dan Bumi beredar menurut Undang yang pasti, ialah undangnya Newton. Undang itu diakui syah, dipelajari di sekolah, dan dipakai oleh Ahli Bintang buat menghitung hal yang berkenaan dengan bumi dan bintang. Undang Newton tetap diakui syahnya, walaupun Einstein dalam beberapa perhitungan bisa mendapatkan hasil yang lebih jitu. Kalau undang alam yang dilukiskan oleh Newton itu jatuh, ataupun satu menit saja berhenti, maka kacau balaulah jutaan bumi dan bintang tadi. Tetapi selama Ilmu Pasti lahir dan ahli-ilmu-pasti memperhatikan jalannya Bumi dan Bintang ini, belumlah satu saat juga undang gerakan bintang itu dapat perkosaan. Belum pernah Maha Dewa RAH – yang mestinya masih ada menahan matahari naik, atau mencegah matahari turun Pasti Rah tak akan bisa.

Peralaman (Experimenten) yang dijalankan dalam Laboratorium pada 5 benua di muka bumi ini belum pernah memungkiri Undang yang dikenal, dalam Ilmu Kodrat (Mekanika) Ilmu Alam, Ilmu Pisah dll. Undang alam itu terus jalan dengan tetap pasti, tak perduli, di waktu mana ataupun tempat mana juga. Dimana saja, bila saja undang itu dilaksanakan, dia berjalan tetap terang. Seperti pepatah Indonesia: Terang, bersuluh bulan dan matahari, bergelanggang di mata orang banyak. Pasti pula Maha Dewa Rah tak akan bisa merubah jalannya undang itu, pasti tak bisa.

Seorang pemikir nakal pernah berkata: yang kuat di alam ini mengalahkan yang lemah. Undang Alam ini sudah termasuk ke dalam common sense. "Ini semut’’,katanya pula, "ini jari saya, lebih kuat dari semut itu’’, katanya terus. "Kalau ada Kodrat, yang bisa mencegah Alam menjalankan Undangnya, tolonglah semut ini’’, katanya yang penghabisan. Pada saat itu juga ditekankannya jari pada semut yang lemah tadi. Semut tadi pasti mati. Quot erat demonstandum. Demikianlah dibuktikan kebatalannya andaian ke 1 tadi.

2. pada jari tengah Dewa Rah sama kuasa dengan alam dan undang alam.

Kalau begitu apa gunanya menyembah Dewa Rah? Dewa Rah tidak diketahui jalannya. DIA adalah satu kegaiban yang maha besar. Sedangkan alam bukanlah semuanya gaib, sudah banyak diketahui undangnya, jalannya. Boleh dilihat akibatnya dan disimpulkan segala buktinya. Ditunjukkan kebenarannya dengan tak pernah mungkir. Boleh dipakai undangnya itu buah keselamatan dan kesenangan didup. Jadi lebih baik sembah junjung dan puja alam saja, barang yang nyata itu. Seandainya Maha Dewa RAH tak menyetujui hal ini, maka dia boleh parani alam dan kalau perlu berjuang, mengukur kekuatan dengan alam. Karena kekuatan RAH dan Alam itu seperti sudah kita andaikan tadi sama, maka kita makhluk yang hina ini boleh menjadi penonton saja. Kita tak perlu takut. Dewa Rah tak akan bisa berhenti memarani kita penonton. Karena DIA tak bisa lepas dari gelutan, sepak-terjang, terlak serta kuntauannya alam yang sama-kuat dengan Dewa Rah itu.

3. Pada jari manis : Dewa Rah kurang kuasa dari alam dan Undangnya.

Seandainya kemungkinan ini benar, maka kita ingat pada nasibnya Dr. Frankenstein. Dia, seperti kita tahu, membikin seorang raksasa. Dia menghidupkan kembali dengan jalan Ilmu Listrik satu mayat. Tetapi otaknya mayat itu, ialah otaknya seorang bangsat. Raksasa yang dihidupkan ini menjadi musuh mati-matian Dr. Frankenstein. Sang dokter terpaksa lari bersembunyi saja, tak sanggup menentang buatannya sendiri. Kasihan pula kita kalau Dewa Rah membikin Alam yang lebih berkuasa dari pembikin, ialah Rah sendiri, sampai terpaksa lari bersembunyi.

Dr. Frakenstein bisa mencari tempat bersembunyi. Tetapi kemanakah Dewa Rah akan bersembunyi? Bukankah semua yang ada ialah alam yang takluk pada undangnya alam? Demikianlah menurut kemungkinan yang terakhir ini Maha Dewa Rah mestinya takluk pada Alam. Sebagai bukti, ialah dimana saja dan pada waktu mana saja undangnya alam tak pernah dan tak bisa dapat bantahan.

Demikianlah kalau kita pakai pikiran yang jernih, hati berani dan jujur, memikirkan, bahwa zat berasal pada Rohani, kita mesti tersesat. Kita mesti akui, bahwa hakekat yang semacam itu bertentangan dengan akal.

anak

January 15th, 2008 by gawilgawil

Apakah pasangan lebih bahagia karena punya anak? Beberapa memang, tapi beberapa tidak. Dan kalaupun mereka bahagia karena punya anak, itu belum berarti hubungan mereka jadi lebih baik atau lebih buruk. Mereka masih merasa berhak saling mengatur; mereka masih berpikir bahwa janji "hidup bahagia selamanya" harus dipertahankan, andaipun harus diabayar dengan ketidak bahagiaan sehari-hari.

sex..terlarang

January 15th, 2008 by gawilgawil

coelho:

Mengapa semua agama, di seluruh dunia, bahkan kepercayaan-kepercayaan dan budaya-budaya paling primitive, menganggap seks terlarang?

Karena makanan!

Ribuan tahun yang lalu, suku-suku hidup berpindah-pindah; lelaki bisa menggauli wanita sebanyak dia suka, dan, tentu saja, menghasilkan anak dengan mereka. Tapi semakin besar anggota suku itu, semakin besar kemungkinan mereka akan punah. Suku-suku itu berkelahi diantara mereka sendiri demi makanan, mula-mula membunuh anak-anak, lalu wanita-wanita, karena mereka yang paling lemah. Hanya yang kuat-kuat yang selamat, tapi semuanya laki-laki. Dan tanpa wanita, manusia tidak bisa beranak pinak.

Lalu seseorang, setelah melihat apa yang terjadi di suku tetangga, hendak mencegah hal yang sama terjadi di sukunya. Dia merekayasa cerita tentang dewa yang melarang manusia bercinta tanpa pandang bulu dengan para wanita sesuku. Mereka hanya boleh bercinta dengan satu, atau paling banyak dua wanita. Beberapa lelaki impotent, beberapa wanita steril, beberapa anggota suku –karena sebab-sebab alamiah, tidak bisa punya anak, tapi tak seorangpun boleh berganti pasangan.

Mereka semua percaya cerita itu, karena orang yang menceritakannya bicara atas nama dewa. Dia pasti berbeda dengan yang lain: mungkin dia punya kelainan bentuk tubuh, atau penyakit yang menyebabkan kejang-kejang, atau bakat tertentu, pokoknya sesuatu yang membuatnya beda dari anggota-anggota suku yang lain, sebab seperti itulah biasanya para pemimpin pertama kali muncul. Dalam beberapa tahun, suku itu semakin kuat, dengan jumlah lelaki yang pas untuk memberi makan semua orang, dengan jumlah wanita yang pas untuk reproduksi, dan jumlah anak yang pas untuk menggantikan para pemburu dan pejantan.

Apakah yang paling menyenangkan bagi wanita dalam perkawinan? Seks?

Salah!

Membuat makanan. Melihat suaminya makan. Itulah saat-saat kepuasan seorang wanita, karena dia menghabiskan seluruh harinya memikirkan makan malam. Dan sebabnya pasti berakar pada kisah zaman purba itu –kelaparan, ancaman kepunahan, dn jalan menuju kelangsungan eksistensi umat manusia.

suami, isteri dan rel kereta api

January 15th, 2008 by gawilgawil

coelho:

Jarak antara kedua rel kerta api selalu 143, 5 sentimeter atau 4 kaki 8 ½ inchi. Kenapa angkanya aneh begitu? Dan inilah jawabannya: Ketika orang pertamakali membuat gerbong kereta api, mereka menggunakan perlatan seperti untuk membuat kereta kuda. Dan kenpa angka itu menjadi jarak antara kedua roda kereta kuda? Karena jarak itu adalah lebar jalan-jalan yang dilalui kereta-kereta kuda. Dan siapa yang memutuskan bahwa jalan-jalan harus selebar itu? Nah, sekarang kita terlontar balik ke zaman dulu. Adalah orang-orang Romawi, pembangun jalan raya-jalan raya pertama dalam sejarah, yang memutuskan membuat jalan raya-jalan raya mereka selebar itu. Kenapa? Karena kereta perang-kereta perang mereka ditarik oleh dua ekor kuda, dan kalau diberdirikan berdampingan, lebar kedua kuda itu 143, 5 sentimeter.

Jadi, jarak antara rel yang digunakan oleh kereta api canggih berkecepatan tinggi saat ini ditentukan oleh orang zaman Romawi. Waktu orang pergi ke Amerika dan mulai membuat jalan kereta api, tidak terpikir sama sekali oleh mereka untuk mengubahnya, jadi lebar jaraknya tetap sama. Itu bahkan berpengaruh pada pembuatan pesawat ulang-alik ruang angkasa. Para insinyur Amerika berpendapat tangki bahan bakarnya harus lebih lebar, tapi tangki itu dibuat di Utah dan harus diangkut dengan kereta api ke Pusat Angkasa Luar di Florida, dan terowongan kereta api tidak memungkinkan keretanya mengangkut barang yang lebih lebar. Jadi, mereka mau tidak mau harus menerima ukuran yang oleh orang Romawi dianggap ideal. Tapi apa hubungannya semua itu dengan perkawinan?

Pada suatu saat dalam sejarah, seseorang berkata: bila dua orang menikah, mereka akan tetap membeku seperti itu sepanjang sisa hidup mereka. Kalian akan berjalan berdampingan bagai sepasang rel, selalu berjarak sama. Walau salah seorang dari kalian merasa perlu agak menjauh atau mendekat, itu melanggar aturan. Aturannya adalah: pakailah akal sehat, pikirkan masa depan, pikirkan anak-anak. Kalian tak bisa berubah, kalian harus tetap seperti sepasang rel kereta api yang memelihara jarak yang selalu sama dari titik pemberangkatan sampai titik tujuan. Peraturannya tidak membolehkan cinta berubah, atau mengambang pada awalnya dan menyusut di tengah –itu terlalu berbahaya. Jadi, setelah antusiasme di tahun-tahun pertama, mereka memelihara jarak yang sama, rasa kebersamaan yang sama, naluri alamiah yang sama. Tujuan kalian adalah menjaga agar kereta api membawa ras manusia dengan selamat ke masa depan: anak-anak kalian hanya bisa merasa bahagia kalau kalian tetap seperti adanya –berjarak 143,5 sentimeter satu sama lain. Kalau kalian bosan dengan kemonotonan ini, pikirkan mereka, pikirkan anak-anak yang kalian lahirkan ke dunia.

Pikirkan tetangga-tetangga kalian. Tunjukkan pada mereka bahwa kalian bahagia, makan daging panggang setiap hari Minggu, nonton tivi, kerja bakti untuk komunitas. Pikirkan pergaulan dalam masyarakat: berdandanlah sedemikian rupa, sehingga semua orang tahu bahwa kalian hidup dalam keharmonisan yang sempurna. Jangan pernah menengaok ke samping, seseorang mungkin sedang memperhatikan kalian, dan itu bisa menimbulkan godaan, itu bisa menyebabkan perceraian, krisis, depresi.

Tersenyumlah dalam semua foto kalian. Taruh foto-foto di ruang keluarga, sehingga semua orang bisa melihatnya. Potong rumput, berolah raga –oh ya, kalian harus berolah raga agar bisa tetap awet muda. Kalau olah raga masih belum cukup, jalani bedah plastik. Tapi jangan sampai lupa, peraturan-peraturan itu dibuat sudah lama sekali, harus dihormati dan dipatuhi. Siapa yang membuat peraturan-peraturan itu? Tidak penting. Jangan dipertanyakan, karena peraturan itu akan selalu berlaku, walau kalian tidak setuju dengan peraturan itu.

January 9th, 2008 by gawilgawil

Make your pain into a harp.
Become a nightingale,
become a flower.
When bitter years arrive,
make your pain into a harp
and sing the one song.

Don’t bind your wound
but with the branches of the rose.
I give you wanton myrrh
- for balm - and opium.
Don’t bind your wound,
your purple blood.

Tell the gods to “let me die!”
but hold on to the glass.
Buck against your days when
there’s a festival for you.
Tell the gods to “let me die!”
but say it with a laugh.

Make your pain into a harp.
Refresh your lips
at the lips of your wound.
One dawn, one evening,
make your pain into a harp
and laugh, and die.

desire

January 9th, 2008 by gawilgawil

Like beautiful bodies of the dead who had not grown old
and they shut them, with tears, in a magnificent mausoleum,
with roses at the head and jasmine at the feet –
this is what desires resemble that have passed
without fulfillment; with none of them having achieved
a night of sensual delight, or a bright morning.